Kuatnya Iman Politik Pemilih dan Dampaknya Terhadap Suara Elektoral Pasca Debat

Jumat, 12 Januari 2024 – 19:01 WIB

VIVA – Beberapa hari lalu tepatnya pada tanggal 7 Januari 2024 kita telah menyaksikan panasnya debat capres cawapres ketiga yang membahas terkait isu Pertahanan, Keamanan, Hubungan Internasional dan Geopolitik. Sejatinya pada pemilu 2024 terdapat 5 episode debat capres cawapres 2024 yang akan mewarnai kontestasi pilpres 2024. Makna dan tujuan sebenarnya dari diselenggarakannya debat pilpres adalah untuk memberikan gambaran dan informasi kepada publik terkait visi dan misi capres cawapres 2024.

Baca Juga :

Kepemimpinan Profetik, Transisi Kepemimpinan Nasional 2024

Dalam bukunya yang berjudul “Political Marketing Theoretical and Strategic Foundations” 2 akademisi politik asal Polandia Wojciech Cwalina dan Andrzej Falkowski mengemukakan bahwa tujuan debat dalam konteks politik elektoral dan marketing politik adalah untuk memberikan kesempatan kepada pemilih untuk melihat bagaimana struktur dan kerangka berpikir kandidat terhadap suatu isu dengan waktu yang terbatas secara spontan, dengan hal tersebut pemilih dapat melihat solusi dan program program yang akan dikerjakan kandidat secara spontan.

Selain itu Cwalina dan Falkowski turut menyoroti luasnya atensi publik yang dapat terlihat dari  publisitas dan siaran dari penyelenggara debat tersebut sangat penting bagi para pemilih untuk memungkinkan terjadinya perubahan terhadap pilihannya serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemilu tersebut

Baca Juga :

Musra dan Pesan Perlawanan Presiden Jokowi

Namun apakah dalam konteks Indonesia, kontestasi debat yang diselenggarakan tempo hari dapat mempengaruhi suara pemilih?. Secara teoritis sebagaimana yang dijelaskan Cwalina dan Falkowski tentu hal ini dapat menjadi kesempatan terjadinya perubahan pemilih dalam memilih kandidat dalam kata lain debat dapat merubah perilaku pemilih “swing voters” atau dalam kajian ilmu politik seringkali disebut sebagai pemilih yang tidak partisan, sebagai contoh adanya posibilitas bagi pendukung Ganjar untuk bergeser menjadi pendukung Prabowo dikarenakan adanya kesamaan kultur politik dan seterusnya.

Namun dalam kajian akademis terdapat 2 kutub yang saling bernegasi satu dengan yang lainnya. Di satu sisi terdapat beberapa ilmuwan politik yang menyebutkan bahwa debat politik tidak memiliki dampak elektoral yang signifikan bagi suara masing-masing kandidat, sedangkan di sisi lain terdapat ilmuwan politik yang menyebutkan bahwa debat politik memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap dinamika elektoral dalam suatu kontestasi pemilu

Baca Juga  Penguatan Peran Perempuan yang Digaungkan Prabowo-Gibran Dapat Dukungan

Baca Juga :

Politik Kebencian dan Ajakan Anies Adu Gagasan

Thomas Holbrook dalam bukunya yang berjudul “Do Campaigns Matter” menyebutkan berdasarkan data yang diambil dari kontestasi pemilihan presiden di Amerika Serikat pada tahun 1984, 1988, dan 1992 mengungkapkan bahwa perubahan dinamika elektoral yang terjadi pada periode tersebut hanya berkisar antara 3% yang dapat disimpulkan kurang signifikan terhadap jumlah dinamika elektoral yang terjadi.

Dalam studi lain yang dikemukakan Andreas Goldberg dalam literaturnya yang berjudul “TV debates in EP election campaigns – the influence of the 2019 Eurovision debate on voting behaviour” turut menjelaskan bahwa dalam studi kasus yang menjadi penelitiannya debat kurang memiliki pengaruh elektoral yang kuat disebabkan faktor faktor kompleks. Namun di sisi lain penelitian yang dilakukan Mitchell S. McKinney and Benjamin R. Warner dalam jurnalnya yang berjudul “DO PRESIDENTIAL DEBATES MATTER? EXAMINING A DECADE OF CAMPAIGN DEBATE EFFECTS” mengungkapkan bahwa debat politik menjadi sesuatu hal yang signifikan bagi kandidat untuk mendapatkan limpahan suara elektoral yang signifikan.

Berdasarkan ketiga kajian tersebut, bolehlah kita simpulkan bahwasanya debat tidak memiliki kepastian apakah akan berpengaruh terhadap suara elektoral dan sebaliknya, dengan kata lain banyak faktor yang  mempengaruhi bagaimana hubungan antara debat dan dinamika elektoral, lantas bagaimana dengan konteks Indonesia?

Dalam konteks Indonesia perlu diingat bahwa pada pemilu Presiden 2024 masing masing pasangan calon telah memiliki basis suara yang cukup kuat. Pasangan calon 1 dapat kita klasifikasikan sebagai kaum oposisi yang cenderung resisten terhadap Jokowi. Pasangan calon 2 merupakan loyalis dan pendukung Jokowi non PDIP serta pendukung figur Prabowo. Pasangan 3 dapat kita klasifikasikan sebagai pendukung PDIP karena menurut survei suara Ganjar Pranowo dan Suara PDIP berada pada angka yang sama berkisar pada angka 20-25%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa masing-masing paslon memiliki basis suara yang kuat. Posibilitas perubahan suara yang mungkin terjadi menurut Burhanuddin Muhtadi adalah pergeseran antara suara Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto yang relatif memiliki latar belakang yang sama yakni “Pendukung Jokowi” sehingga memungkinkan adanya pergeseran dan dinamika elektoral yang terjadi.

Dalam konteks debat politik sayangnya berdasarkan survei yang dilakukan Indikator Politik menjelaskan bahwa mayoritas penonton debat adalah seseorang yang sudah memiliki iman politik yang kuat (bukan undecided voters atau swing voters) sehingga debat politik tidak memiliki pengaruh elektoral yang signifikan, ditambah lagi perlu dianalisis lebih lanjut apakah masyarakat menonton penuh debat ataukah hanya setengah-tengah tentu hal tersebut menjadi variabel yang menarik dalam mempengaruhi relasi antara debat dan dinamika elektoral yang ada.

Baca Juga  Semakin Ditunda-tunda Bukan Semakin Baik

Tentu terdapat dogma yang menyebutkan bahwa debat politik akan mempengaruhi swing voters atau pemilih non partisan untuk berubah dalam konteks pilihan suara, namun dengan fakta yang dikemukakan Burhanuddin Muhtadi dalam surveinya bahwa mayoritas penonton debat merupakan seseorang yang telah memiliki iman politik yang kuat serta telah memiliki preferensi politik yang kuat ditambah lagi berdasarkan riset yang dilakukan LSI Denny JA mengungkapkan bahwa hanya 14% populasi di Indonesia yang menonton debat dari awal hingga akhir. Kendati demikian, menurut saya debat tetap memiliki efek terhadap dinamika elektoral walaupun tidak menjadi “game changer”. Survei yang dilakukan oleh LSI Denny JA mengungkapkan dampak elektoral atau perubahan elektoral yang terjadi hanyalah berkisar di angka 2,9% sedangkan survei Indikator mengungkap perubahan elektoral hanya berada di angka tersebut. Selain itu debat juga memiliki fungsi untuk memperkuat basis dan ceruk suara masing-masing calon mengingat fakta bahwa mayoritas penonton debat adalah seseorang yang telah memiliki iman politik yang kuat.

Walaupun secara empiris debat kandidat tidak memiliki dampak elektoral yang signifikan, namun menurut saya debat politik sangat penting sebagai sarana pendidikan politik masyarakat, walaupun fakta menunjukkan bahwa penonton debat yang menonton hingga tuntas hanyalah 14%, namun exposure dan atensi publik yang tinggi dapat menjadi sarana publik untuk memahami politik, memahami permasalahan negara, dan menilai kemampuan capres dan cawapres dalam menghadapi suatu isu secara spontan walaupun tidak berdampak besar terhadap dinamika elektoral dalam kontestasi pemilu.

Halaman Selanjutnya

Berdasarkan ketiga kajian tersebut, bolehlah kita simpulkan bahwasanya debat tidak memiliki kepastian apakah akan berpengaruh terhadap suara elektoral dan sebaliknya, dengan kata lain banyak faktor yang  mempengaruhi bagaimana hubungan antara debat dan dinamika elektoral, lantas bagaimana dengan konteks Indonesia?

Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *