Efektifkah Kendaraan Listrik tapi Sumber Energinya dari PLTU Batu Bara?

Selasa, 7 November 2023 – 13:47 WIB

Jakarta – Salah satu polemik yang kerap muncul saat berbicara perihal pemanfaatan kendaraan listrik adalah soal seberapa efektifnya penggunaan kendaraan listrik yang sumber energinya masih diambil dari PLTU batu bara.

Baca Juga :

Kendaraan Listrik Tetap Butuh Pelumas

Menanggapi polemik tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin mengatakan, pihaknya sudah menghitung efektivitas dari pemanfaatan kendaraan listrik, yang sumber energinya masih berasal dari PLTU batu bara.

Setelah hasil perhitungan diperoleh, Rachmat pun menegaskan bahwa upaya untuk beralih ke kendaraan listrik, meskipun energinya masih berasal dari PLTU batu bara, memang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi lingkungan.

Baca Juga :

Kendaraan Listrik Diyakini Tidak akan Mengurangi Bisnis Pelumas

“Kemarin kita sempat hitung-hitung, menurut kita sih ada (gunanya),” kata Rachmat dalam telekonferensi di acara sosialisasi ‘Dekarbonisasi Sektor Transportasi melalui Adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Wilayah Jawa Barat’, Selasa, 7 November 2023.

Deputi Transportasi dan Infrastruktur Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin.

Photo :

  • VIVA/Mohammad Yudha Prasetya.

Baca Juga :

Menteri ESDM: 1 PLTU Bakal Pensiun Dini di 2023, Didanai JETP

Dia pun merinci hasil perhitungan tersebut. Saat efisiensi motor listrik dihitung berdasarkan jarak tempuhnya, maka jarak yang bisa ditempuh oleh 1 liter bensin sama dengan jarak yang ditempuh dengan energi antara 1,2-1,3 kwh menggunakan kendaraan listrik.

“Ini matematika yang biasa kita hitung, 1 liter bensin itu jaraknya kira-kira sama dengan 1,2-1,3 kwh kalau di kendaraan listrik. 1 liter bensin itu kalau dibakar CO2-nya, adalah 2,4 kg. Tapi kalau 1 kwh itu kira-kira hanya 1 kg pure coal fire,” ujarnya.

Karenanya, Rachmat mengatakan bahwa kalaupun seandainya seluruh pembangkit listrik di Indonesia itu menggunakan batu bara (coal), maka itu pun masih ada saving CO2 antara 40-50 persen. “Dan tentunya, kan tidak semua pembangkit listrik di Indonesia itu PLTU. Kita juga punya yang (emisi dari pembangkitnya) rendah. Emisi kita enggak 1 kg/kwh, tapi mungkin sekitar 0,7 (kg/kwh),” kata Rachmat.

Baca Juga  Enggan Main di WSBK, Johann Zarco Masuk Radar LCR Honda

Rachmat pun menegaskan bahwa upaya pengurangan emisi CO2 melalui penggunaan kendaraan listrik itu, memang benar-benar nyata manfaatnya. Hal itu bahkan dapat dilihat dari perbandingan antara jumlah cerobong pembangkit listrik, dengan jumlah knalpot kendaraan bermotor yang ada di Indonesia.

“Jadi pengurangan emisi ini sebenarnya sangat-sangat real. lebih gampangnya lagi, kita punya cerobong jumlahnya puluhan atau ratusan, dan kita punya knalpot 150 juta. Lebih gampang mana untuk dikendalikan, yang puluhan/ratusan atau yang 150 juta?” ujar Rachmat.

“Jadi ini (peralihan ke kendaraan listrik) memang harus kita lakukan lebih baik. Karena ini dua hal yang memang berkaitan, tapi tidak percuma kalau kita kerjakan satu dulu. Apalagi saat ini pemerintah juga tengah mengerjakan keduanya,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya

Karenanya, Rachmat mengatakan bahwa kalaupun seandainya seluruh pembangkit listrik di Indonesia itu menggunakan batu bara (coal), maka itu pun masih ada saving CO2 antara 40-50 persen. “Dan tentunya, kan tidak semua pembangkit listrik di Indonesia itu PLTU. Kita juga punya yang (emisi dari pembangkitnya) rendah. Emisi kita enggak 1 kg/kwh, tapi mungkin sekitar 0,7 (kg/kwh),” kata Rachmat.

Halaman Selanjutnya



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *