5 Destinasi Wisata Bersejarah yang Saksi Bisu Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

TEMPO.CO, Jakarta – Wisata sejarah menjadi salah satu cara mengenang jasa-jasa para pahlawan di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Jadi, menjelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, tidak ada salahnya mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang banyak tersebar di berbagai daerah di Indonesia. 

Untuk memahami mana saja tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan dalam memperjuangakan kemerdekaan, berikut 5 tempat bersejarah yang bisa dikunjungi.

1. Gedung Joang ’45

Gedung Joang ’45 adalah salah satu bangunan peninggalan dari Belanda. Pemilik pertamanya adalah pengusaha dari Belanda yang bernama Lc Schomper pada 1939. Awalnya bangunan ini dibuat sebagai Hotel Schomper yang dijadikan sebagai tempat singgah penjabat tinggi Belanda, pengusaha asing, dan penjabat pribumi yang berkunjung ke Batavia.

Berkolasi di Jalan Menteng nomer 31, Kelurahan Kebon Sirih, Kecamatan Menteng,  Jakarta Pusat, gedung yang kini menjadi museum ini sempat dijadikan sebagai tempat diklat, asrama, dan ruang diskusi para pemuda untuk bertukar pikiran seperti Sukarni, Chaerul Saleh, A.M Hanafi, Adam Malik, Wikana, Achmad Soebardjo, B.M. Diah, Sayuti Melik, Soerastri Karma Trimurti, Latif Hendraningrat, S. Suhud, dan Trimurti.

Selain itu, museum ini juga memamerkan sejumlah lukisan tentang peristiwa kemerdekaan Indonesia. Terdapat beberapa diorama yang menggambarkan suasana Gedung Joang ’45 pada masa kemerdekaan dan orasi Sukarno. Ada juga arsip dokumentasi berupa foto-foto dan patung dada dari para tokoh, serta tiga kendaraan kepresidenan yang digunakan Presiden dan Wakil Presiden pertama RI.

Tugu Proklamasi. Shutterstock

2. Tugu Proklamasi

Tugu Proklamasi menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Inilah lokasi pembacaan Naskah Proklamasi oleh Ir. Sukarno yang di dampingi oleh Moh. Hatta yang menjadi penanda kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga  Buntut Kasus Penembakan Bripda Ignatius, Polri Pecat Bripda IMS

Dulu, Tugu Proklamasi adalah halaman rumah Sukarno. Saat itu Sukarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di teras depan rumahnya yang berlokasi di Jalan Pegangasaan Timur nomer 56, Jakarta. Kini rumah tersebut sudah tidak ada. 

3. Rumah Rengasdengklok

Rumah ini milik seorang Tionghoa yang bernama Dijaw Kie Siong. Rumah ini bersejarah karena sempat dijadikan tempat Sukarno-Hatta disembunyikan oleh golongan muda yang mendesak untuk segera diumumkan kemerdekaan Indonesia. Rengasdengklok saat itu wilayah kekuasaan tentara Peta dan jauh dari kekuasaan Jepang sehingga dianggap aman untuk persembunyian.

Iklan

Rumah ini berlokasi di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

4. Hotel Majapahit

Hotel Majapahit berlokasi di Jalan Tunjungan, Surabaya, Jawa Timur. Dulunya hotel ini bernama LMS, lalu berganti Hotel Oranje, kemudian Hotel Yamato, dan Hotel Hoteru, dan terakhir menjadi Hotel Majapahit. Hotel ini dibangun pada 1910 oleh Sarkies Bersaudara yang berdarah Armenia.

Hotel ini adalah saksi terjadinya peristiwa para pemuda Indonesia yang marah karena kehadiran penjajah di Surabaya pascakemerdekaan. Lalu para pemuda tersebut merobek bendera Belanda yang kemudian menjadi bendera merah putih.

Benteng Rotterdam Makassar. TEMPO/Hariandi Hafid

5. Benteng Rotterdam

Fort Rotterdam atau Benteng Rotterdam terletak di Jalan Ujung Pandang No.1, Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini adalah bekas peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Benteng ini dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa IXI Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng.

Benteng ini mengadopsi arsitektur benteng Portugis yang berbentuk segi empat. Ketika Kerajaan Gowa-Tallo menandatangani Perjanjian Bongaya dan menyerah pada abad ke-17, Benteng Fort Rotterdam jatuh ke tangan Belanda. 

Benteng ini dulunya menjadi tempat markas komando pertahanan, kantor perdagangan, hingga pusat pemerintahan Belanda di wilayah timur Indonesia. Setelah beberapa kali beralih fungsi, benteng ini akhirnya diserahkan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1970. Koleksi menarik di Benteng ini adalah naskah La Galigo yang telah di akui oleh UNESCO sebagai Memory of The World.

Baca Juga  Pemerintah Diminta Tegas Lindungi UMKM RI dari Ancaman Tiktok Shop

DWI NUR AZIZAH 

Pilihan Editor: Destinasi Asyik Rayakan Hari Kemerdekaan



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *